Awas! Penjahat di Indonesia Incar Dompet Digital

Share This Post

Media Masa, Teknologi – Fraud atau penipuan di sektor keuangan Indonesia terbilang tinggi. Kebanyakan pelaku masuk dalam berbagai celah yang ada di kartu kredit hingga yang saat ini ngetren yaitu akun e-wallet atau dompet digital.

“Angka fraud kita tinggi. Tapi cukup sulit menentukan posisinya. Singapura paling rendah, kalau Indonesia bisa dibilang antara masuk top 3-4,” kata Kevin Onggo, Country Manager Indonesia CashShield saat berbincang, Rabu (9/10/2019).

Namun ada beberapa perbedaan antara fraud yang terjadi di Indonesia dengan negara lain, contohnya target yang tidak sama. Misalnya di Eropa, fokus pelaku masih banyak di kartu kredit (detik.net).

“Kalau di Indonesia saat ini targetnya kebanyakan ke e-wallet. Misalnya penipuan lewat modus permintaan OTP ke pengguna dompet digital tersebut,” tambahnya

“Tapi credit card value-nya sekarang nggak as precious as account. Kalau account dalemnya ada saldo, gue punya saldo gue bisa kena fraud ke credit card gue kan, akun ini bisa dipakai semua orang kan, tapi kalau credit card gue diambil gue tinggal telepon aja ke bank ‘eh credit card gue diambil nih’, tapi kalau account gue nelepon kan saldonya udah ilang,” sambungnya.

Di pihak lain, Justin Lie Founder & CEO CashShield mengatakan perusahaannya masuk ke bisnis proteksi dari fraud. “Kami masuk ke berbagai macam celah e-wallet, fraud sekarang lebih kompleks dan kami punya alat untuk mencegahnya,” klaim Justin.

Yang unik dari CashShield adalah pembacaan deteksi fraud berdasarkan algoritma behavior atau kebiasaan. Jadi, sistem akan membaca mana yang merupakan frauders atau bukan lewat pola-pola tertentu.

“Misalnya saya buka Ovo atau Dana, kan banyak tuh orang pake fake account kayak buat promosi tuh, dulu ada promo Ovo kan beli pertama 100 persen cash back, jadi kalau gue buat fake account 100 kali, gue cash back 100 kali,” jelas Kevin memberi contoh pencegahan yang dilakukan.

Selain fake account, transaksi ilegal juga bisa difilter. Dari algoritma yang membaca high-frequency trading dan pemindaian pola, mereka pun bisa mendeteksi kemungkinan penipuan.

“Data ini kemudian ini kami bisa berikan ke vendor ‘eh kayaknya ini 88 persen kemungkinannya frauders deh,” jelas Kevin. CashShield pun akan melakukan upaya agar penipuan atau kecurangan dapat dicegah atau diputus.